Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Biaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Biaya. Tampilkan semua postingan

BAB 10 VARIABLE COSTING

BAB 10 
VARIABLE COSTING
A.Pengertian Variable costing
Variable Costing merupakan suatu metode penentuan Harga Pokok Produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi variable saja.
                
B.Manfaat Variable costing
Laporan yang disusun oleh variable costing lebih memfokuskan pada prilaku biaya terhadap produk, yaitu biaya variable dan biaya tetap, Laporan bisa digunakan untuk analisa perubahan laba yang di harapkan apabila terjadi perubahan penjualan atau perubahan biaya.

Dengan menggunakan Metode Variable Costing, 
•       Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.
•       Dalam kaitannya dengan produk yang belum laku dijual, BOP tetap tidak melekat pada persediaan tersebut tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.
•       Perhitungan atau penentuan Harga Pokok Produksi, dapat juga di lakukan dengan Full Costing. Dalam menentukan Harga Pokok Produksi memasukkan semua biaya produksi baik yang bersifat variable maupun yang bersifat tetap terhadap produk.
•       Dengan menggunakan Metode Full Costing,  
•       Biaya Overhead pabrik baik yang variabel maupun tetap, dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan  di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead yang sesungguhnya.
•       Selisih BOP akan timbul apabila BOP yang dibebankan berbeda dengan BOP yang sesungguh nya  terjadi.
C.    Perbedaan Variable Costing dengan Full Costing

Metode Full Costing
Harga Pokok Produksi :
Biaya bahan baku                                           Rp.  xxx.xxx
Biaya tenaga kerja langsung                            Rp.  xxx.xxx
Biaya overhead pabrik tetap                           Rp.  xxx.xxx
Biaya overhead pabrik variabel                       Rp.  xxx.xxx
Harga Pokok Produk                                     Rp.  xxx.xxx
Dengan menggunakan Metode Full Costing,
1.      Biaya Overhead pabrik baik yang variabel maupun tetap, dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead yang sesungguhnya.
2.      Selisih BOP akan timbul apabila BOP yang dibebankan berbeda dengan BOP yang sesungguh- nya  terjadi.
Catatan :
Pembebanan BOP lebih (overapplied factory overhead), terjadi jika jml BOP yang dibebankan lebih besar dari BOP yang sesungguhnya terjadi.
Pembebanan BOP kurang (underapplied factory overhead), terjadi jika jml BOP yang dibebankan lebih kecil dari BOP yang sesungguhnya terjadi.
3.      Jika semua produk yang diolah dalam periode tersebut belum laku dijual, maka pembebanan biaya overhead pabrik lebih atau kurang tsb digunakan untuk mengurangi atau menambah harga pokok yang masih dalam persediaan (baik produk dalam proses maupun produk jadi)
4.      Metode ini akan menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya samapi saat produk yang bersangkutan dijual.
Variable Costing :
Merupakan suatu metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi variabel saja. Dikenal juga dengan istilah : direct costing
Harga Pokok Produksi :
Biaya bahan baku                                              Rp.  xxx.xxx
Biaya tenaga kerja langsung                               Rp.  xxx.xxx
Biaya overhead pabrik variabel                          Rp.  xxx.xxx
Harga Pokok Produk                                        Rp.  xxx.xxx
Dengan menggunakan Metode Variable Costing,
1.      Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.
2.      Dalam kaitannya dengan produk yang belum laku dijual, BOP tetap tidak melekat pada persediaan tersebut tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.
3.      Penundaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan penundaan tersebut diharapkan dapat dihindari terjadinya biaya yang sama periode yang akan datang.
Penyajian Laporan Laba Rugi
Laporan Laba-Rugi
( Metode Full Costing )
Hasil penjualan                                       Rp.     500.000
Harga pokok penjualan                          Rp.     250.000 -
Laba Bruto                                             Rp.     250.000
Biaya administrasi dan umum                   Rp.       50.000 -
Biaya pemasaran                                     Rp.       75.000 -
Laba Bersih Usaha                                  Rp .    125.000
Ket :
Laporan Laba-rugi tsb menyajikan biaya-biaya menurut hubungan biaya dengan fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran dan fungsi administrasi dan umum.
Laporan Laba-Rugi
( Metode Variable Costing )
Hasil penjualan                                               Rp.  500.000
Dikurangi Biaya-biaya Variabel :
Biaya produksi variabel           Rp.  150.000
Biaya pemasaran variabel        Rp.    50.000
Biaya adm. & umum variabel   Rp.    30.000
                                               Rp.  230.000
Laba kontribusi                                                Rp.  270.000
Dikurangi Biaya Tetap
Biaya produksi tetap                       Rp.    100.000
Biaya pemasaran tetap                    Rp.      25.000
Biaya Adm & umum tetap              Rp.      20.000
        Rp.  145.000
Laba Bersih Usaha                                          Rp   125.000
D.Manfaat Informasi yang Dihasilkan oleh Metode Variable Costing
Laporan keuangan yang disusun berdasar metode Variable Costing bermanfaat bagi manajemen untuk :
(1)        Perencanaan laba jangka pendek
(2)        Pengendalian biaya dan
(3)        Pembuatan keputusan.

 E.Keunggulan Variable Costing
•       Data yang diperlukan dapat diambil langsung dari Laporan Rugi Laba yang disusun dengan format kontribusi.
•       Laba akan terarah pada Penjualan karena Laba yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh tingkat persediaan.
•       Manajer selalu berasumsi bahwa yang dinamakan biaya produksi hanyalah yang bersifat variabel saja, sehingga akan menjadi masalah kalau diterapkan Absorption Costing karena disamping ada biaya produksi variabel juga dimasukkan unsur biaya tetap.
F.Kelemahan Variable Costing
•       Kesulitan pemisahan biaya variable dan biaya tetap
•       Bentuk laporan variable costing tidak diterima untuk pihak ekstern
•       Tidak diperhitungkan biaya overhead pabrik tetap dalam persediaan dan harga pokok persediaan akan mengakibatkan nilai persediaan lebih rendah, sehingga akan mengurangi modal kerja yang dilaporkan untuk tujuan-tujuan analisa keuangan.


Share:

BAB 9 SISTEM HARGA POKOK STANDAR - PENENTUAN STANDAR

akuntansi biaya bab9

POKOK BAHASAN 9:                    SISTEM HARGA POKOK STANDAR - PENENTUAN
                                                                                                STANDAR

SUBPOKOK BAHASAN:

1.1.       Standar, normal, dan sesungguhnya.
1.2.       Penggunaan biaya standar.
1.3.       Jenis standar.
1.4.       Standar bahan baku.
1.5.       Standar tenaga kerja langsung.
1.6.       Standar overhead pabrik.

MATERI PERKULIAHAN


1.1.       Standar, Normal, dan Sesungguhnya

Harga pokok produk dapat ditetapkan atas dasar harga pokok sesungguhnya, harga pokok normal, dan harga pokok standar. Penentuan harga pokok produk berdasar biaya sesungguhnya memiliki kelemahan dalam hal pengumpulan biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu, penentuan harga pokok produk berdasar biaya sesungguhnya ini dimodifikasi dengan menetapkan biaya overhead pabrik atas dasar taksiran. Untuk kepentingan pengendalian biaya, harga pokok produk ditetapkan berdasar biaya standar.

1.2.       Penggunaan Biaya Standar

Biaya standar dapat digunakan untuk (1) pengendalian biaya, (2) penentuan harga pokok persediaan, (3) perencanaan anggaran, (4) penentuan harga jual, dan (5) mengurangi pekerjaan pencatatan (record-keeping). Tujuan pengendalian biaya adalah untuk membantu manajemen agar dapat membuat produk dengan biaya produksi yang serendah mungkin pada standar kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan adanya standar, manajemen dapat membuat perbandingan antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar sehingga dapat mengukur prestasi dan menghilangkan ketidak-efisienan.
Harga pokok persediaan dapat dinilai sebesar biaya standar, sedang selisih dengan biaya sesungguhnya akibat ketidak-efisienan dan kapasitas mengganggur dilaporkan sebagai biaya periode. Untuk keperluan pelaporan kepada pihak eksternal, persediaan harus disesuaikan sehingga disajikan sebesar biaya sesungguhnya.
Biaya standar sangat bermanfaat untuk penyusunan anggaran pada periode tertentu. Anggaran adalah biaya standar pada tingkat aktivitas yang diharapkan untuk periode tertentu.
Harga jual dan harga pokok mempunyai hubungan yang sangat erat. Jika harga jual diturunkan maka diharapkan kuantitas yang dijual akan meningkat. Jika kuantitas yang dijual bertambah maka harga pokok per unit akan turun karena adanya biaya overhead pabrik tetap. Dengan adanya biaya standar, manajemen dapat membuat kombinasi harga jual dan kuantitas yang dijual pada berbagai tingkat kegiatan sehingga akan dicapai laba yang maksimal.
Kegiatan pencatatan akan dapat dikurangi jika digunakan biaya standar karena dengan menggunakan standar pencatatan rinci tidak diperlukan. Jika persediaan dinilai sebesar harga pokok standar maka pencatatan persediaan hanya membutuhkan catatan tentang kuantitas persediaan saja.

1.3.       Jenis Standar.

Ada tiga jenis standar, yaitu (1) standar tetap (dasar), (3) standar ideal, dan (3) standar yang dapat dicapai. Standar tetap adalah standar yang sekali ditetapkan tidak berubah. Standar ini mungkin ideal pada saat ditetapkan tetapi dengan berjalannya waktu terjadi perubahan yang mendasari disusunnya standar sehingga menyebabkan standar tersebut tidak sesuai lagi. Standar ini jarang digunakan akibat penyusutan manfaatnya.
Standar ideal adalah standar yang disusun pada kondisi yang sempurna. Standar ini disusun dengan asumsi bahwa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik dapat diperoleh dengan harga yang termurah (minimum) setiap saat. Dalam penyusunan standar ideal  diasumsikan bahwa pemakaian biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik telah optimal pada kapasitas produksi 100%. Dalam kenyataan, standar ini tidak akan dapat ditemui sehingga selisih yang terjadi selalu merupakan selisih yang tidak menguntungkan (unfavorable variances).
Standar yang dapat dicapai (attainable standards) adalah standar yang didasarkan pada tingkat efisiensi yang tinggi yang dapat dicapai oleh karyawan. Standar ini disusun dengan asumsi bahwa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik dapat diperoleh dengan harga terbaik (good overall price). Dalam menyusun standar ini dipertimbangkan bahwa tenaga kerja tidak dapat berkerja 100% efisiensi, dimungkinkan adanya produk rusak normal, dan perusahaan tidak mungkin beroperasi pada kapasitas 100%.
Standar dapat dibedakan menjadi (1) standar bahan baku, (2) standar tenaga kerja langsung, dan (3) standar overhead pabrik.

1.4.       Standar Bahan Baku

Standar bahan baku adalah biaya bahan baku yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu unit produk. Standar bahan baku dapat dibedakan menjadi standar harga bahan baku dan standar efisiensi (pemakaian) bahan baku.

Contoh
Dalam tahun 1999,  Standard Corporationmerencanakan memproduksi 2.000 unitclown customes (pakaian) dan akan dijual dengan harga Rp100,00 per unit. Berdasarkan penelitian, setiap unit produk jadi (clown customes) membutuhkan bahan baku (kain) 2 yards. Harga bahan baku yang dapat disanggupi oleh pemasok adalah Rp5,00 per yard.
Pertanyaan:
1.      Tentukan standar harga bahan baku per yard. 5
2.      Tentukan standar efisiensi bahan baku per unit produk 2.
3.      Tentukan standar biaya bahan baku per unit produk. 5 x 2 = 10



1.5.       Standar Tenaga Kerja Langsung

Standar tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya dipekerjakan untuk memproduksi satu unit produk. Standar tenaga kerja langsung dapat dibedakan menjadi standar tarip upah langsung dan standar efisiensi tenaga kerja langsung.

Contoh
Clown customes pada Standard Corporation di atas diproses melalui dua tahap, yaitu cutting (pemotongan) dansewing (penjahitan).            Berdasarkan penelitian, waktu yang dibutuhkan untuk memotong setiap unit produk adalah 1 jam, sedang untuk menjahit adalah 2 jam. Perusahaan mempunyai satu mesin potong dan dua mesin jahit yang masing-masing dikerjakan oleh seorang karyawan yang bekerja selama 40 jam seminggu. Dalam satu tahun karyawan bekerja selama 50 minggu. Tarip upah per jam untuk setiap karyawan ditetapkan sebagai berikut.
Moe (pemotong)               Rp12,00
Larry (penjahit)                       7,00
Curly (penjahit)                       5,00
Pertanyaan:
1.      Tentukan total jam kerja langsung yang diharapkan dalam tahun 1999.
2.      Tentukan standar tarip upah langsung per jam kerja langsung.
3.      Tentukan standar efisiensi tenaga kerja langsung per unit.
4.      Tentukan standar biaya tenaga kerja langsung.

1.6.       Standar Overhead Pabrik

Standar overhead pabrik adalah biaya overhead pabrik yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu unit produk. Standar overhead pabrik dapat dibedakan menjadi standar  overhead pabrik tetap dan standar  overhead pabrik variabel.

Contoh
Budget overhead pabrik pada Standard Corporation di atas diproyeksikan pada tingkat kegiatan 6.000 jam kerja langsung.
Biaya overhead pabrik variabel:
Bahan penolong                Rp   600,00
Upah tidak langsung                     3.000,00
Pemeliharaan                                             1.200,00
Bahan bakar                                             1.800,00
                                                                                                             Rp6.600,00
Biaya overhead pabrik tetap:
Listrik                                                        Rp  3.500,00
Supervisi                                           25.000,00
Depresiasi                                            1.500,00
Sewa pabrik                                        6.000,00
                                                                                                            Rp36.000,00


Pertanyaan:
1.        Tentukan tarip overhead pabrik variabel.
2.        Tentukan tarip overhead pabrik tetap.
3.        Tentukan standar biaya overhead pabrik variabel.
4.        Tentukan standar biaya overhead pabrik tetap.
5.        Tentukan standar untuk Standard Corporation:
a.         Unit produksi yang diharapkan pada kapasitas normal.
b.         Jam kerja langsung pada kapasitas normal.
c.         Harga pokok standar per unit.


LATIHAN

Berikut ini adalah data yang dikumpulkan dari Bates Corporation.
Rencana produksi tahun 1999                                                                                                           30.000 unit
Bahan baku yang dibutuhkan untuk setiap unit produk                     2 ton
Harga bahan baku per ton atas dasar pesanan:
                                   1 – 25.000 ton                                                                                                             Rp200,00 per ton
                  25.0001 – 50.000 ton                                                                                                             Rp190,00 per ton
                  50.0001 – 75.000 ton                                                                                                             Rp185,00 per ton
Tenaga kerja langsung yang dibutuhkan:
                  Shaping time per ton                                                                                                                 3 jam
                  Welding time per unit                                                                                                              10 jam
Tarip upah per jam:
                 Shaper                                                                                                                                                       Rp11,00
                 Welder                                                                                                                                                       Rp15,00         
Budget overhead pabrik atas dasar jam kerja langsung:
                  Budget overhead pabrik tetap                                                                                                Rp 57.600,00
                  Budget overhead pabrik variabel                                                                                Rp120.000,00
Pertanyaan:
1.      Tentukan standar harga bahan baku per ton.
2.      Tentukan standar efisiensi bahan baku per unit.
3.      Tentukan standar tarip upah langsung per jam kerja langsung.
4.      Tentukan standar efisiensi tenaga kerja langsung per unit.
5.      Tentukan tarip overhead pabrik variabel.
6.      Tentukan tarip overhead pabrik tetap.
7.      Tentukan harga pokok standar.


Share:

BAB 8 KONSEP OBJEK BIAYA

·         PENGERTIAN AKUNTANSI BIAYA
Akuntansi biaya adalah suatu bidang akuntansi yang diperuntukkan bagi proses pelacakan, pencatatan, dan analisa terhadap biaya-biaya yang berhubungan dengan aktivitas suatu organisasi untuk menghasilkan barang atau jasa. Biaya didefinisikan sebagai waktu dan sumber daya yang dibutuhkan dan menurut konvensi diukur dengan satuan mata uang. Penggunaan kata beban adalah pada saat biaya sudah habis terpakai. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya menurut beberapa pakar:
1. Menurut Schaum
Pengertian dari Akuntansi biaya: adalah suatu prosedur untuk mencatat dan melaporkan hasil pengukuran dari biaya pembuatan barang atau jasa. Fungsi utama dari Akuntansi Biaya: Melakukan akumulasi biaya untuk penilaian persediaan dan penentuan pendapatan.
1. Menurut Carter dan Usry
Pengertian dari Akuntansi Biaya: Penghitungan biaya dengan tujuan untuk aktivitas perencanaan dan pengendalian, perbaikkan kualitas dan efisiensi, serta pembuatan keputusan yang bersifat rutin maupun strategis.


·         Pendekatan akuntansi biaya
Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan untuk akuntansi biaya, yaitu biaya standar (standard costing), biaya berdasarkan kegiatan (activity-based costing), dan biaya berdasarkan hasil (throughput accounting).

·         Revolusi dalam akuntansi biaya
Akuntansi biaya telah mengalami perubahan yang dramatis, dimana perkembangan sistem komputer hampir menghapuskan pembukuan secara manual. Akuntansi biaya kini telah menjadi kebutuhan nyata dalam semua organisasi termasuk bank, organisasi profesional, serta lembaga pemerintah. Dewasa ini telah banyak perusahaan yang memasang metode pabrikasi produk, perdagangan produk, atau pemberian jasa dengan bantuan komputer. Adanya teknologi ini telah sangat memberikan dampak terhadap akuntansi biaya.

·         Pengajaran dalam akuntansi biaya
Banyak bahan pelajaran yang diajarkan dalam akuntansi biaya, dimana kesemuanya selalu berkaitan dengan biaya-biaya yang mungkin timbul dalam proses produksi. Pembelajaran yang dilakukan dalam akuntansi biaya antara lain mengenai penentuan harga pokok produk: bersama dan sampingan, harga pokok proses, pembiayaan: biaya variabel dan biaya tetap, biaya overhead pabrik, departementalasi biaya overhead, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja: langsung dan tidak langsung, pengendalian biaya, serta analisis biaya pemasaran.

·         Manfaat akuntansi biaya
Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat bagi manajemen untuk memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya. Manfaat biaya adalah menyediakan salah satu informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam mengelola perusahaannya, yaitu untuk perencanaan dan pengendalian laba; penentuan harga pokok produk dan jasa; serta bagi pengambilan keputusan oleh manajemen.

·         Keterbatasan dalam sistem akuntansi biaya
Dalam akuntansi biaya juga terdapat beberapa kekurangan yang menyertainya, terutama dalam sistem akuntansi biaya yang telah ketinggalan zaman. Gejala-gejala dari sistem biaya yang ketinggalan zaman diantaranya ialah hasil dari penawaran sulit dijelaskan, harga pesaing nampak lebih rendah sehingga kelihatan tidak masuk akal, produk-produk yang sulit diproduksi menunjukkan laba yang tinggi, manajer operasional berkeinginan menghentikan produk-produk yang kelihatan menguntungkan, marjin laba sulit dijelaskan, pelanggan tidak mengeluh atas biaya naiknya harga, departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu hanya untuk memberi data biaya bagi proyek khusus, dan biaya produk berubah karena adanya perubahan peratauran pelaporan.



·         KONSEP OBJEK BIAYA
Sistem akuntansi manajemen dibuat untuk mengukur dan membebankan biaya kepada entitas yang disebut objek biaya
Objek biaya : produk, pelanggan, departemen, proyek, aktivitasdan sebagainya, di mana biaya diukur dan dibebankan
Aktivitas: unit dasar kerja yang dilakukan dalam sebuah organisasi



·         KLASIFIKASI BIAYA BERDASAR FUNGSI POKOK PERUSAHAAN
Perusahaan Manufaktur:
1. BIAYA PRODUKSI

·         Bahan Langsung
·         Tenaga kerja langsung
·         Biaya Overhead Pabrik
2. BIAYA NON PRODUKSI:

·         Biaya Penjualan dan marketing
·         Biaya administrasi


·          KLASIFIKASI BIAYA
Berdasarkan konsep Akuntansi Keuangan (Konsep Akrual)

1.BIAYA PRODUK
Semua biaya yang terkait dengan pemerolehan atau pembuatan suatu produk
Dalam perusahaan manufaktur maka biaya produk meliputi: Bahan Langsung, TKL, BOP
Karena biaya produk ditentukan dalam persediaan, maka disebut juga Inventoriable Cost

2.BIAYA PERIODIK
Semua biaya yang tidak termasuk dalam biaya produk. Biaya ini adalah beban dalam laporan laba rugi dalam periode dimana biaya tersebut terjadi. Yang termasuk biaya periodik dalam produk manufaktur meliputi: Beban penjualan dan biaya administrasi


·         Klasifikasi Biaya Secara Umum
            Akuntansi biaya menghasilkan biaya untuk memenuhi pencapaian tujuan antara lain penentuan harga pokok, perencanaan dan pengendalian biaya serta pengambilan keputusan, maka dari itu penyajian biaya diklasifikasikan dengan tepat sangat diperlukan agar data yang dihasilkan akurat sebab informasi tersebut diperlukan untuk tindak lanjut dalam melaksanakan kegitan perusahaan dalam mengevaluasi serta melakukan perbaikan dimasa yang akan datang.
            Pada akuntansi biaya, umumnya penggolongan biaya ditentukan atas dasar tujuan yang akan dicapai dengan penggolongan tersebut, karena pada akuntansi biaya dikenal konsep different costs for different purposes, yang artinya biaya yang berbeda digunakan untuk kepentingan yang berbeda pula. Pada dasarnya klasifikasi biaya adalah preses pengelompokan biaya atas keseluruhan elemen biaya secara sistematis ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih rinci yang bertujuan memberikan informasi biaya yang lebih lengkap bagi manajemen dalam mengelola perusahaan.
·         Peranan Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi, serta membuat baik keputusan rutin maupun keputusan strategik. Dalam hal ini, pengumpulan, penyajian, dan
analisis informasi dalam kaitannya dengan biaya dan manfaat sangat membantu manajemen dalam melaksanakan tugas-tugas berikut :
1. Menyusun dan melaksanakan rencana serta anggaran operasi dalam kondisi yang ekonomis dan bersaing.
2. Menetapkan metode kalkulasi biaya yang menjamin adanya pengendalian, pengurangan biaya, dan perbaikan mutu.
3. Mengendalikan jumlah persediaan secara fisis, dan menentukan biaya dari masing-masing barang dan jasa yang diproduksi untuk tujuan penentuan harga dan mengevaluasi prestasi suatu produk, departemen atau divisi.
4. Menghitung biaya dan laba perusahaan untuk suatu periode akuntansi.



·         METODE HARGA POKOK PROSES 
KARAKTERISTIK METODE HARGA POKOK PROSES
Karakter produksinya sbb:
1.      Produk yg dihasilkan merupakan produk standar
2.      Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama
3.      Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu

PERBEDAAN METODE HARGA POKOK PROSES DENGAN METODE HARGA POKOK PESANAN
1.      pengumpulan biaya produksi
Metode harga pokok pesanan mengumpulkan biaya produksi menurut pesanan, sedangkan metode harga pokok proses mengumpulka biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi
2.      perhitungan harga pokok produksi per satuan
metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan. Perhitungan ini dilakukan pada saat pesanan telah selesai diproduksi. Metode harga pokok proses menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan. Perhitungan ini dilakukan setiap akhir periode akuntansi ( biasanya akhir bulan)
3.      penggolongan biaya produksi
dalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi harus dipisahkan menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung. Biaya produksi langsung dibebankan kepada produk berdasar biaya sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya produksi tidak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tariff yang ditentukan dimuka. Didalam metode harga pokok proses, pembedaan biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung seringkali tidak diperlukan, terutama jika perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk ( seperti perusahaan semen, pupuk, bumbu masak). Karena harga pokok persatuan produk dihitung setiap akhir bulan, maka umumnya biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar biaya yang sesungguhnya terjadi.
4.      unsur biaya yang dikelompokkan dalam biaya overhead pabrik.
Dalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung. Dalam metode ini biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tariff yang ditentukan dimuka. Di dalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku dan bahan penolong dan biaya tenaga kerja ( baik yang langsung maupun yang tidak langsung). Dalam metode ini biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk sebesar biaya yang sesungguhnya terjadi selama periode akuntansi tertentu.



Manfaat informasi harga pokok produksi
1.       Menentukan harga jual produk
2.       Memantau realisasi biaya produksi
3.       Menghitung laba atau rugi periodic
4.       Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca

METODE HARGA POKOK PROSES- TANPA MEMPERHITUNGKAN PERSEDIAAN PRODUK DALAM PROSES AWAL
VARIASI CONTOH PENGGUNAAN METODE HARGA POKOK PROSES YANG DIURAIKAN DALAM BAB INI MENCAKUP:
a.       metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang produknya dioleh hanya melalui satu departemen produksi
b.      metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang produknya diolah melalui lebih dari satu departemen produksi
c.       pengaruh terjadinya produk yang hilang dalam proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan, dengan anggapan:
·         produk hilang pada awal proses
·         proiduk hilang pada akhir proses

METODE HARGA POKOK PROSES – PRODUK DIOLAH MELALUI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI
Contoh 1.
PT Risa Rimendi mengolah produknya secara massa melalui satu departemen produksi. Jumlah biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari 19x1 disajikan dalam gambar 3.1
Biaya bahan baku
Biaya bahan penolong
Biaya tenaga kerja
Biaya overhead pabrik
Rp    5.000.000
Rp    7.500.000
Rp  11.250.000
Rp  16.125.000
Total biaya produksi
Rp  39.875.000
Jumlah produk yang dihasilkan selama bulan tersebut adalah :
Produk jadi
Produk dalam proses pada akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: Biaya bahan baku : 100 %;biaya bahan penolong  100 %, biaya tenaga kerja 50 %; biaya overhead pabrik 30 %.

2.000 kg

500 kg

Data produksi PT Risa Rimendi Bulan Januari 19x1
Masuk ke dalam proses: 2.500 kg

Produk jadi : 2000 kg
Produk dalam proses akhir  500 kg






Perhitungan harga pokok produksi per satuan
Unsure biaya produksi
Total biaya
Unit ekuivalensi
Biaya produksi per satuan
(1)
(2)
(3)
(2);(3)
Bahan baku
Bahan penolong
Tenaga kerja
Overhead pabrik
Rp    5.000.000
Rp    7.500.000
Rp  11.250.000
Rp  16.125.000
39.875.000
2.500
2.500
2.250
2.150
Rp 2.000
3.000
5.000
7.500
17.500

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses

Harga pokok produk jadi : 2.000 x Rp 17.500
Rp 35.000.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses
Biaya bahan baku : 100 % x 500 x Rp 2.000 = Rp 1.000.000
Biaya bahan penolong 100 % x 500 x Rp 3.000= Rp 1.500.000
Biaya tenaga kerja 50 % x 500 x Rp 5.000= Rp 1.250.000
Biaya overhead pabrik 30 % x 500 x rp 7.500= Rp 1.125.000




Rp   4.875.000
Jumlah biaya produksi bulan januari 19x1
Rp 39.875.000

Jurnal pencatatan biaya produksi
jurnal untuk mencatat biaya bahan baku ;
Barang dalam proses- biaya bahan baku                           Rp 5.000.000
      Persediaan bahan baku                                                            Rp 5.000.000

Jurnal untuk mencatat biaya bahan penolong
Barang dalam proses- biaya bahan penolong                          Rp 7.500.000
            Persediaan bahan penolong                                                     Rp 7.500.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja
Barang  dalam proses- biaya tenaga kerja                               Rp 11.250.000
            Gaji dan upah                                                                          Rp 11.250.000

JurnaL untuk mencatat biaya overhead pabrik
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik                         Rp 16.125.000
            Berbagai rekening yang dikredit                                             Rp 16.125.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang
Persediaan produk jadi                                                           Rp 35.000.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku                                 Rp 4.000.000
            Barang dalam proses- biaya bahan penolong                          Rp 6.000.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja                                 Rp 10.000.000
            Barang dalam proses- biaya overhead pabrik                         Rp 15.000.000


Jurnal mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai dioleh pada akhir bulan januari 19 x1

Persediaan produk dalam proses                                             Rp 4.875.000
            Barang dalam proses – biaya bahan baku                               Rp 1.000.000
            Barang dalam proses – biaya bahan penolong                        Rp 1.500.000
            Barang dalam proses- Biaya tenaga kerja                               Rp 1.250.000
            Barang dalam proses – biaya overhead pabrik                        Rp 1.125.000 

METODE HARGA POKOK PROSES –PRODUK DIOLAH MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI
Perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama adalah merupakan perhitungan yang bersifat kumulatif. Karena produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama telah merupakan produk jadi dari departemen sebelumnya, yang membawa biaya produksi dari departemen produksi sebelumnyua tersebut, maka harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama terdiri dari:
a.       biaya produksi yang dibawa dari departemen sebelumnya
b.      biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen pertama

Contoh2:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1
Departemen A
Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses
35.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B
30.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang
24.000 kg
Produk dalam proses akhir bulan
5.000 kg
6.000 kg
Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 19x1
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja
Biaya overhead pabrik

Rp 70.000
Rp 155.000
Rp 248.000

Rp 0
Rp 270.000
Rp 405.000
Tingkat penyelesaian produk dalam produk proses akhir
Biaya bahan baku
Biaya konversi

100%
20%


50%







Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen A
Unsur biaya produksi
Total biaya
Unit ekuivalensi
Biaya produksi per kg
Bahan baku
Tenaga kerja
Overbead pabrik
Rp 70.000
155.000
248.000
35.000
31.000
31.000
Rp 2
5
8
Total
Rp 173.000
Rp 15

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep A

Harga pokok produk jadi : 30.000 x Rp 15
Rp 450.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses
Biaya bahan baku : 100 % x 5.000 x Rp 2 = Rp 10.000
Biaya tenaga kerja 20 % x 5.000 x Rp 5 = Rp5.000
Biaya overhead pabrik 20 % x 5.000 x Rp 8= Rp 8.000




Rp   23.000
Jumlah biaya produksi Departemen A bulan januari 19x1
Rp 473.000

Jurnal pencatatan biaya produksi departemen A
Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku :
Barang dalam proses-biaya bahan baku departemen A                      Rp 70.000
            Persediaan bahan baku                                                                        Rp 70.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja :
Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen A                    Rp 155.000
            Gaji dan upah                                                                                      Rp 155.000

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen A            
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen A              Rp 248.000
            Berbagai rekening yang di kredit                                                        Rp 248.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen A ke departemen B:
Barang dalam proses – biaya bahan baku departemen B                    Rp 450.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A                     Rp 60.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A                     Rp 150.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A               Rp 240.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang  belum selesai diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1

Persediaan produk dalam proses-departemen A                                 Rp 23.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A                     Rp 10.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A                     Rp   5.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A               Rp   8.000

Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen B
Unsur biaya produksi
Total biaya
Unit ekuivalensi
Biaya produksi per kg
Tenaga kerja
Overbead pabrik
270.000
405.000
27.000
27.000
10
15
Total
Rp 675.000
Rp 25

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep B

Harga pokok produk selesai yang di transfer departemen B ke gudang
Harga pokok dari departemen A : 24.000 x Rp 15
Biaya yang ditambahkan oleh departemen B : 24.000x Rp 25


Rp 360.000
600.000
Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang
24.000 x Rp 40
960.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir
Harga pokok dari departemen A : 6.000 x Rp 15
Biaya yang ditambahkan oleh departemen B:
Biaya tenaga kerja 50 % x 6.000 x Rp 10 = Rp30.000
Biaya overhead pabrik 50 % x 6.000 x Rp 15= Rp 45.000

90.000


Rp   75.000
Total harga pokok persediaan produk dalam proses departemen B
165.000
Jumlah biaya produksi kumulatif Departemen B bulan januari 19x1
Rp 1.125.000



jurnal pencatatan biaya produksi departemen B

Jurnal untuk mencatat penerimaan produk dari departemen A: :
Barang dalam proses – biaya bahan baku departemen B                    Rp 450.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A                     Rp 60.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A                     Rp 150.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A               Rp 240.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja :
Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen B                    Rp 270.000
            Gaji dan upah                                                                                      Rp 270.000

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen B            
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen B              Rp 405.000
            Berbagai rekening yang di kredit                                                        Rp 405.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen B ke gudang
Persediaan produk jadi                                                                       Rp 960.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B                     Rp 360.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B                     Rp 240.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B               Rp 360.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang  belum selesai diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1

Persediaan produk dalam proses-departemen B                                 Rp 165.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B                     Rp 90.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B                     Rp 30.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B               Rp 45.000


PENGARUH TERJADINYA PRODUK YANG HILANG DALAM PROSES TERHADAP PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUK PER SATUAN

Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada awal proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan

Contoh3:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1
Departemen A
Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses
1.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B
700 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang
400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut :
Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya konversi 40 %
Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 %


200 kg



100 kg
Produk yang hilang pada awal proses
100 kg
200 kg

Biaya produksi Bulan Januari 19 x1

Departemen A
Departemen B
Biaya bahan baku
Rp 22.500
Rp          -
Biaya bahan penolong
26.100
16.100
Biaya tenaga kerja
35.100
22.500
Biaya overhead pabrik
45.800
24.750

Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1

Jenis biaya
Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemn A ( unit ekuivalensi)
Biaya produksi Departemen A
Biaya per kg produk yang dihasilkan oleh departemen A
Biaya bahan baku
700 kg + 100 % x 200 kg = 900 kg
Rp 22.500
Rp 25
Biaya bahan penolong
700 kg + 100 % x 200 kg = 900 kg
26.100
29
Biaya tenaga kerja
700 + 40%x200kg=780kg
35.100
45
Biaya overhead pabrik
700 + 40%x200kg=780kg
46.800
60
Rp 130.500
Rp 159

Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 159
Rp 111.300
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg)
Biaya bahan baku         200 kg x 100 % x Rp 25 = 5.000
Biaya bahan penolong  200 kg x 100 % x Rp 29 = 5.800
Biaya tenaga kerja       200 kg x 40 %x Rp 45= 3.600
Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 60= 4.800




Rp 19.200
Jumlah biaya produksi Departemen A
Rp 130.500

Produk yang hilang pada awal proses di Departemen setelah departemen pertama

Perhitungan penyesuaian harga pokok per unit dari departemen A

Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen A
Rp 111.300 : 700
Rp 159,00
Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen A setelah adanya produk yang hilang dalam proses di Departemen B sebanyak 200 kg adalah Rp 111.300 : ( 700 kg-200 kg)
Rp 222.60
Penyesuaian harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari Departemen A
Rp  63.60









Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1

Jenis biaya
Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen B ( unit ekuivalensi)
Jumlah biaya produksi yang ditambahkan di departemen B
Biaya per kg yang ditambahkan Departemen B
Biaya bahan penolong
400 kg + 60 % x 100 kg = 460 kg
Rp 16.100
Rp 35
Biaya tenaga kerja
400 kg + 50 %x 100 kg = 450 kg
Rp 22.500
Rp 50
Biaya overhead pabrik
400 kg + 50 %x 100 kg = 450 kg
Rp 24.750
Rp 55
Rp 63.350
Rp 140

Perhitungan biaya produksi departemen B bulan Januari 19x1
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg @ Rp 362.60
Rp 145.040
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 kg):
Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 222.6= Rp 22.260
Biaya bahan penolong : 100 kg x 60 % x Rp 35 = 2.100
Biaya tenaga kerja  : 100 kg x 50 % x Rp 50 = 2.500
Biaya overhead pabrik : 100 kg x 50 %x Rp 55 =2.750




Rp 29.610
Jumlah kumulatif dalam departemen B
Rp 174.650

Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada akhir proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan

Contoh:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1
Departemen A
Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses
1.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B
700 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang
400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut :
Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya konversi 40 %
Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 %


200 kg



100 kg
Produk yang hilang pada akhir proses
100 kg
200 kg



Biaya produksi Bulan Januari 19 x1
Departemen A
Departemen B
Biaya bahan baku
Rp 22.500
Rp          -
Biaya bahan penolong
26.100
16.100
Biaya tenaga kerja
35.100
22.500
Biaya overhead pabrik
45.800
24.750


Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1

Jenis biaya
Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemn A ( unit ekuivalensi)
Biaya produksi Departemen A
Biaya per kg produk yang dihasilkan oleh departemen A
Biaya bahan baku
700 kg + 100 % x 200 kg + 100 kg= 1000 kg
Rp 22.500
Rp 22.5
Biaya bahan penolong
700 kg + 100 % x 200 kg+ 100 kg = 1000 kg
26.100
26.10
Biaya tenaga kerja
700 + 40%x200kg + 100 kg = 880kg
35.100
39.89
Biaya overhead pabrik
700 + 40%x200kg+ 100 kg = 880kg
46.800
53.18
Rp 130.500
Rp141.67

Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 141.67
Rp 99.169
Penyesuaian harga pokok produk selesai karena adanya produk yang hilang pada akhir proses 100 xRp 141,67
14.167,00
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah disesuaikan : 700 x Rp 161,91
113.334,40
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg)
Biaya bahan baku         200 kg x 100 % x Rp 22.5 = 4.500
Biaya bahan penolong  200 kg x 100 % x Rp 26.1 = 5.220
Biaya tenaga kerja       200 kg x 40 %x Rp 39.89= 3.191,2
Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 53.18= 4.254,4




Rp 17.165.60
Jumlah biaya produksi Departemen A
Rp 130.500,00








Produk yang hilang pada akhir proses di departemen produksi setelah departemen produksi pertama

Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1

Jenis biaya
Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen B ( unit ekuivalensi)
Jumlah biaya produksi yang ditambahkan di departemen B
Biaya per kg yang ditambahkan di Departemen B
Biaya bahan penolong
400 kg + 60 % x 100 kg + 200 kg = 660 kg
Rp 16.100
Rp 24.39
Biaya tenaga kerja
400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = 650 kg
Rp 22.500
Rp 34.62
Biaya overhead pabrik
400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = 650 kg
Rp 24.750
Rp 38.08
Rp 63.350
Rp 97.09

Perhitungan biaya produksi Departemen B bulan Januari 19x1

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 400 x Rp 161.91
Rp 64.764,00
Biaya yang ditambahkan departemen B 400 x Rp 97.09
     38.836,00
Harga pokok produk yang hilang pada akhir proses : 200 kg ( Rp 161.91+Rp 97.09
51.800,00
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah disesuaikan : 400 x Rp 388.5
155.400,00
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 Kg)
Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 161.91 = Rp 16.191,00
Biaya bahan penolong  100 kg x 60 % x Rp 24.39 = 1.463.3
Biaya tenaga kerja       100 kg x 50 %x Rp 34.62= 1.731
Biaya overhead pabrik 100 kg x 50 %x Rp 38.08= 1.904




Rp 21.289.40
Jumlah biaya produksi Departemen B
Rp 176.689.40



Share:

Business

Popular

Arsip Blog

Recent Posts