Tampilkan postingan dengan label Pengantar Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengantar Bisnis. Tampilkan semua postingan

BAB 16 ANGGARAN PERUSAHAAN

ANGGARAN PERUSAHAAN
Anggaran merupakan rencana sistematis yang dinyatakan dalam unit kesatuan moneter dan berlaku jangka mendatang. Persamaan dasar anggaran adalah sebagai berikut:

Keterangan :
DATA = laporan masa lalu
ASUMSI = harapan
PROYEKSI = anggaran

Kegunaan anggaran:
1. Sebagai perencanaan terpadu
2. Sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan
3. Pangkoordinasian kerja
4. Pengawasan atau pengendalian (anggaran dan realisasi)
5. Evaluasi perusahaan

Langkah penyusunan anggaran adalah harus realistis / rasional, luwes / fleksibel, dan rutin atau kontinyu. Anggaran digunakan dalam penentua kebijakan managerial. Tujuan penyusuna anggaran:
1. Menyatakan suatu harapan secara jelas
2. Mengkomunikasikan harapan managemen kepada karyawan atau bawahan
3. Menentukan metode atau cara dalam merealisasikan anggaran
4. Mengurangi ketidakpastian rencana usaha
5. Menyediakan alat pengukur kinerja

Administrasi anggaran dilakukan pada bagian anggaran dengan menyediakan pedoman untuk kegiatan usaha tahun berikutnya. Menawarkan saran atau teknis pelaksanaan usaha, mengusulkan perubahan dan menyelaraskan perbedaan pendapat kemudian menyetujui anggaran. Terakhir dilakukan penelitian laporan anggaran.
Jenis-jenis anggaran:
a. Anggaran parsial; ruang lingkupnya terbatas
b. Anggaran komprehensif; lengkap, menyeluruh
c. Anggaran tetap; sama tiap periode
d. Anggaran kontinyu; berubah-ubah
e. Anggaran jangka pendek; satu sampai dua tahun
f. Anggaran jangka menengah; tiga sampai empat tahun
g. Anggaran jangka panjang; lebih dari lima tahun

Penyebab tidak adanya anggaran dalam perusahaan:
1. Tidak ada tenaga ahli
2. Tidak lengkap datanya
3. Perputaran usaha cepat (ketidakefisienan anggaran)
4. Keadaan ekonomi nasional berubah-ubah
5. Biayanya cukup besar

Tahap pembuatan anggaran:
1. Anggaran penjualan
Digunakan sebagai dasar pembuatan anggaran yang lain (operasional, keuangan, dsb). Yang harus diperhatikan dalam penyusunan anggaran ini adalah produk yang dijual atau jenis barang, harga barang, kemampuan pasar, lokasi pasar, dan tenaga penjualan/marketing. Hal-hal tersebut biasa disebut forecast yang didasarkan pada pendapat managemen, analisis statistic, dan analisa industri. Contoh perhitungan:
no tahun penjualan
1 2004 140 unit
2 2005 148 unit
3 2006 157 unit
4 2007 157 unit
5 2008 160 unit
6 2009 169 unit
2010 (171 unit)…5

a. Tren bebas: anggaran tahun 2010 bebas
b. Tren average: dikelompokkan jadi 2 bagian kemudian dibuat rata-rata penjualan masing-masing kelompok, memberikan skor pada tahun penjualan dimulai tahun pada kelompok 1 dengan membuat persamaan statistic y=a+bx, dengan a=rata-rata penjualan 1, b=selisih rata-rata penjualan kelompok (2-1) dibagi banyak anggota dalam kelompok. Jadi,
a=148 b=(162-148):3
=4,6
y=a+bx tahun 2010; x=5
y=148+(4,6x5)
y=148+23
y=171 Jadi penjualan tahun 2010 171 unit.

Faktor yang mempengaruhi anggaran:
a. Faktor intern
- Modal
- Kapasitas produksi
- Kebijakan perusahaan
- Tenaga kerja yang dimiliki
- Penjualan tahun sebelumnya
b. Faktor ekstern
- Keadaan pesaing
- Posisi perusahaan di kalangan pesaing
- Tingkat penghasilan masyarakat
- Kebijakan pemerintah
- Adat istiadat masyarakat, agama, dan budaya
- Teknologi


2. Anggaran Produksi
Yaitu suatu perencanaan mengenai jumlah unit yang akan diproduksi dalam suatu periode. Menyangkut jumlah, jenis, dan waktu.

Rencana penjualan
Persediaan akhir +
Persediaan barang
(Persediaan awal) -
Barang diproduksi

Kegunaan anggaran produksi secara umum adalah sebagai pedoman koordinasi dan pengawasan kerja. Sedangkan secara khusus:
a. Untuk menunjang kegiatan penjualan
b. Menjaga persediaan
c. Efektifitas dan efisiensi biaya produksi

Faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan anggaran produksi:
a. Volume penjualan
b. Kapasitas mesin dan peralatan yang ada di pabrik
c. Jumlah tenaga kerja (skill and education)
d. Stabilitas bahan baku
e. Modal kerja yang dimiliki
f. Gudang

Langkah-langkah penyusunan anggaran produksi:
a. Menetapkan kebijakan persediaan barang
b. Menetapkan jumlah masing-masing produk yang harus diproduksi
c. Menyusun skedul

Dasar kebijakan penentuan anggaran:
a. Stabilitas tingkat produksi (barang yang diproduksi)
Tidak terpengaruh kondisi apapun, untuk barang yang tidak mudah rusak, lakunya lama.
b. Stabilitas persediaan
c. Kombinasi

3. Anggaran Bahan Baku
Yaitu semua anggaran yang berhubungan dengan perencanaan penggunaan bahan baku untuk proses produksi dalam satu periode. Menggunakan 2 metode yaitu direct materials dan indirect materials. Tujuan anggaran ini adalah:
a. Mengetahui jumlah bahan baku yang dibutuhkan
b. Untuk memperkirakan pembelian bahan baku
c. Menjaga ketersediaan bahan baku
d. Pengawasan penggunaan bahan baku
Dalam penyusuna anggaran ini harus diperhatikan lead time yaitu jarak dan lama tidaknya bahan baku diproduksi.


4. Anggaran Tenaga Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran tenaga kerja:
a. Kebutuhan tenaga kerja
b. Gaji dan upah tenaga kerja (lembur, bonus, THR, jamkes, asuransi, dsb.)
c. Pengawasan tenaga kerja
d. Anggaran jam kerja
Share:

BAB 15 AKUNTANSI BIAYA

AKUNTANSI BIAYA
Pengertian Akuntansi Biaya
Akuntansi Biaya adalah suatu proses pencatatan keuangan yang didalamnya terjadi penggolongan dan peringkasan atas suatu biaya produksi, penjualan produk ataupun jasa menggunakan suatu cara tertentu lengkap dengan penjelasannya.
Akuntansi biaya ini diperlukan untuk pertanggungjawaban kepada pihak eksternal perusahaan seperti investor ataupun kreditur, serta pihak internal (manajemen) perusahaan itu sendiri. Akuntansi biaya sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan, karena data historis yang disajikan dalam pencatatannya akan sangat penting digunakan oleh manajemen dalam mengambil keputusan atau kebijakan di waktu yang akan datang.

Fungsi Akuntansi Biaya

1. Penentuan Harga Pokok

Fungsi akuntansi biaya yang pertama adalah untuk menentukan penentuan harga pokok atas suatu produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Jangan sampai harga yang ditawarkan terlalu tinggi ataupun terlalu rendah oleh konsumen. Penentuan harga pokok diperoleh dengan cara mencatat, menggolongkan, memonitor, dan meringkas seluruh komponen biaya yang berhubungan dengan proses produksi dari data histori yang dijadikan acuan pihak manajemen dalam penentuan harga pokok produksi.

2. Perencanaan & Pengendalian Biaya

Dasar yang digunakan dalam estimasi biaya adalah data histori dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang diprediksi akan memengaruhi biaya. Dalam perencanaan dan pengendalian biaya,  pihak manajemen akan memonitor apakah terjadi penyimpangan (ada selisih antara biaya sesungguhnya dengan perencanaan biaya). Jika ada, pihak manajemen akan menganalisis penyebab terjadinya selisih serta mempertimbangkan tindakan koreksi yang memang perlu dilakukan sebagai bentuk pengendalian.

 

 

Klasifikasi Beban

Klasifikasi biaya merupakan proses pengelompokan biaya berdasarkan tujuan dari informasi biaya yang disajikan.Untuk memudahkan dalam melakukan pencatatan biaya dan menyusun laporan keuangan, serta memberikan gambaran informasi yang akurat kepada pihak manajemen, maka komponen biaya dikelompokan dalam beberapa akun dengan klasifikasi sebagai berikut.

Berdasarkan Fungsi Pokok dari Aktivitas Perseroan

a. Biaya Produksi (Production Cost)
Akumulasi dari semua biaya-biaya yang dibutuhkan dalam proses produksi dengan tujuan untuk menghasilkan suatu produk atau barang. Biaya-biaya ini meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya operasional barang atau pabrik, dan lain sebagainya.
b. Biaya Pemasaran (Marketing Expenses)
Biaya yang harus dikeluarkan untuk memastikan semua produk terbeli oleh konsumen. Contoh dari biaya pemasaran adalah biaya promosi dan Iklan yang dilakukan perusahaan.
c. Biaya Administrasi & Umum (General Administration Expenses)
Biaya-biaya yang digunakan untuk mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk, misalnya biaya gaji karyawan, overhead kantor, dan biaya terkait lainnya.  

Berdasarkan Kegiatan atau Volume Produksi

a. Biaya Variabel (Variable Cost)
Komponen biaya yang berubah-ubah sesuai dengan volume produksi yang dihasilkan. Makin besar volume penjualan, makin besar pula biaya yang harus dikeluarkan. Contoh biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja dalam pembuatan sepatu. Jika bahan kulit sepatu adalah Rp2.000 per pasang dan biaya karyawan adalah Rp500 per sepatu, maka biaya produksi 1 pasang sepatu adalah Rp2.500.
Jika 1 hari= 10 sepatu x 2500 = 25.000
Jika 1 hari= 20 sepatu x 2500 = 50.000
Biaya tidak tetap ini disebut variable cost atau biaya variabel.

b. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya yang selalu konstan dan tidak dipengaruhi oleh volume produksi. Biaya tetap memiliki dua karakteristik, yaitu biaya tidak berubah atau tidak dipengaruhi oleh periode atau aktivitas terentu. Dan biaya per unitnya berbanding terbalik dengan perubahan volume. Bila volumenya rendah maka fixed cost atau biaya tetap tinggi, sebaliknya pada volume yang tinggi biaya tetap per unitnya rendah. Contohnya seperti, gaji karyawan toko komputer per bulan adalah Rp800.000. Jika dalam satu bulan toko tersebut hanya melayani 10x pembelian atau 30x, gaji karyawan tersebut tetap Rp800.000. Gaji tetap tersebut yang disebut sebagai fixed cost atau biaya tetap.

Berdasarkan Objek yang Dibiayai

a. Biaya Langsung (Direct Cost)
Biaya yang dapat diidentifikasi langsung berhubungan dengan produksi barang objeknya. Contohnya seperti biaya tenaga kerja langsung dan biaya bahan baku.
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya yang tidak dapat diidentifikasi langsung dengan proses produksi secara keseluruhan. Contohnya biaya listrik, penyusutan mesin, upah mandor, dan biaya administrasi pabrik.

Berdasarkan Pembebanan Periode Akuntansi

a. Pengeluaran Modal (Capital Expenditure)
Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh aktiva tetap, meningkatkan efisiensi operasional dan kapasitas produktif aktiva tetap, serta memperpanjang masa manfaat aktiva tetap. Contohnya mesin pabrik yang memiliki  penyusutan selama 5 tahun.

b. Pengeluaran Penghasilan (Revenue Expenditure)
Biaya-biaya yang hanya akan memberi manfaat dalam periode berjalan, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan tidak akan dikapitalisasi sebagai aktiva tetap di neraca, melainkan akan langsung dibebankan sebagai beban dalam laporan laba rugi periode berjalan di mana biaya tersebut terjadi (dikeluarkan).

Akuntansi biaya merupakan bagian penting dari penghitungan pembiayaan produksi yang akan berdampak pada kelangsungan produksi dan penentuan masa depan strategi bisnis Anda. Untuk menghasilkan sebuah pencatatan akuntansi biaya, tentunya sebuah perusahaan harus memiliki pencatatan setiap transaksi dengan baik dan benar agar terhindar dari salahnya perhitungan dalam penyusunan laporan keuangan.


Share:

BAB 14 AKUNTANSI KEUANGAN

AKUNTANSI KEUANGAN
 Definisi Akuntansi
Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.
Akuntansi  juga bisa berarti pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah.  Akuntansi adalah seni dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Secara luas, akuntansi seringkali diartikan sebagai “Bahasa Dunia Usaha/ The Language of Business”  karena akuntansi merupakan metode komunikasi yang dugunakan untuk menjelaskan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perusahaan.
Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya bila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah menghitung atau mempertanggung jawabkan. Akuntansi digunakan di hampir seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa :
ü    Akuntansi adalah proses yang meliputi:
Pencatatan (recording)
Penggolongan (classifying)
Pengikhtisaran ( summarizing)
Penafsiran (interpreting)
ü    Data transaksi dinyatakan dalam satuan uang.
ü    Akuntansi jauh lebih luas dari tata buku (book keeping)
  1. Fungsi Akuntansi
Fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan suatu organisasi. Dari laporan akuntansi kita bisa melihat posisi keuangan sutu organisasi beserta perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya oleh pihak manajer/ manajemen untuk membantu membuat keputusan suatu organisasi.
  1. Prinsip-prinsip Akuntansi
    PAI 1974 ; PAI 1984 ; dan PSAK 1996
Basic concept and principles :
  1. Single entity
  2. Going concern
  3. Accounting period
  4. Monetary unit
  5. Concervatism
  6. Materiality
  7. Matching cost with revenue
  8. Reliability (neutral, verification, faithfullness)
  9. Relevan (feedback, timelines, predict value)
10.  Reliazation and exchanged price
11.  Comparability and consistence
12.  Full disclosure
  1. Siklus Akuntansi
BUKTI TRANSAKSI ==èJURNAL ==èBUKU BESAR ==èNERACA SALDO ==èJURNAL PENYESUAIAN==è LAPORAN  KEUANGAN ==èJURNAL PENUTUP
Siklus akuntansi adalah sebagai berikut:
a. Pencatatan Data ke dalam dokumen sumber/bukti transaksi.
b. Penjurnalan, yaitu menganalisis dan mencatat transaksi dalam jurnal (buku harian)
c. Melakukan posting ke Buku Besar yaitu memindahkan debet dan kredit dari jurnal
ke akun  Buku Besar.
d. Penyusunan Neraca Saldo yaitu menyiapkan Neraca Saldo untuk mengecek          keseimbangan Buku Besar
e. Membuat ayat jurnal penyesuaian dan memasukkan jumlahya pada Neraca Saldo.
f. Membuat ayat-ayat penutup yaitu menjurnal dan memindah bukukan ayat-ayat penutup.
g. Penyusunan Laporan Keuangan yaitu Laporan Rugi Laba, Laporaan Perubahan Modal dan Neraca.
  1. Manfaat akuntansi bagi perusahaan dilihat dari
  1. 1. Sisi Bisnis :
Dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur, atau pemilik bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat  . Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah pembukuan. Akuntansi keuangan adalah suatu cabang dari akuntansi dimana informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat, diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan. Auditing, satu disiplin ilmu yang terkait tapi tetap terpisah dari akuntansi, adalah suatu proses dimana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan suatu organisasi untuk memberikan suatu pendapat atau opini yang masuk akal tapi tak dijamin sepenuhnya  mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.
  1. 2. Sisi Pendidikan :
Para akuntan yang bertugas sebagai pengajar guna mengembangkan keterampilan di bidang akuntansi.
J         Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi :
ü   Laporan neraca keuangan
ü  Laporan laba/rugi
ü  Laporan Perubahan Ekuitas
ü  Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa Laporan arus kas atau Laporan arus dana
ü  Catatan dan laporan keuangan perusahaan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan
Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah laporan aktiva, kewajiban,dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinereja dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Bisa saja memanfaatkan jasa laporan keuangan (jasa analisa keuangan / analisis keuangan) maupun akuntan publik. Laporan posisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur neraca. Selain itu juga biasanya laporan keuangan juga berisi analisis keuangan / analisa keuangan selama setahun.
  1. Bentuk – bentuk Laporan Keuangan
1.   Neraca
Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender, sehingga neraca sering disebut Balance Sheet. Neraca terdiri dari tiga bagian utama, yaitu aktiva, hutang dan modal.
ü  Aktiva
Dalam pengertian aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum dialokasikan (deffered charges) atau biaya yang masih harus dialokasikan pada penghasilan yang akan datang, serta aktiva yang tidak berwujud lainnya (intangible assets) misalnya goodwill, hak patent, hak menerbitkan dan sebagainya.
Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar. Aktiva lancar adalah uang kas atau aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal). Yang termasuk aktiva lancar yaitu :
• Kas, atau uang tunai yang dapat digunkan untuk membiayai operasi perusahaan.
• Investasi Jangka Pendek (surat-surat berharga atau marketable securities) ; adalah
investasi yang sifatnya sementara (jangka pendek) dengan maksud untuk memanfaatkan      uang kas yang untuk sementara belum dibutuhkan dalam operasi.
• Piutang Wesel, adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam   suatu wesel atau perjanjian yang diatur dalam undang-undang.
  1. Hutang
    Hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor. Hutang dibedakan menjadi hutang lancar (hutang jangka pendek) dan hutang jangka panjang.
    –Hutang lancar meliputi :
    • Hutang Dagang, adalah hutang yang timbul karena adanya pembelian barang dagangan secara kredit.
    • Hutang Wesel, adalah hutang yang disertai dengan janji tertulis (yang diatur dengan UU) untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di masa yang akan datang.
    • Hutang Pajak, baik pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke kas negara.
    • Biaya yang masih harus dibayar, adalah biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.
    • Hutang jangka panjang yang segera jatuh tempo, adalah sebagian (seluruh) hutang jangka panjang yang sudah menjadi hutang jangka pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.
    • Penghasilan yang diterima dimuka, adalah penerimaan uang untuk penjualan barang/ jasa yang belum direalisir.
–Hutang jangka panjang, adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang (lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca), yang meliputi :
• Hutang Obligasi
• Hutang Hipotik (hutang yang dijamin dengan aktiva tetap tertentu)
• Pinjaman jangka panjang yang lain.
3.     Modal
Merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya.
Di dalam neraca sering muncul suatu klasifikasi dengan nama Reserve (cadangan) yang membingungkan pembaca.seharusnya cadangan ini diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi neraca yaitu : aktiva, hutang, dan milik sendiri (modal), sehingga cadangan pada prinsipnya juga terdiri dari 3 golongan yaitu :
1. Cadangan sebagai pengurang aktiva. Biasa dikenal dengan akumulasi penyusutan atau akumulasi depresiasi, sehingga dalam neraca nampak di sebelah debet mengurangi aktiva yang bersangkutan.
2. Cadangan sebagai hutang, misanya cadangan untuk pajak, merupakan suatu hutang yang dicatat sebagai cadangan. Ini tidak benar, seharusnya cadangan untuk pajak ini dimasukkan dalam hutang lancar, yaitu hutang pajak atau taksiran hutang pajak.
3. Cadangan yang merupakan surplus, yang benar-benar merupakan hak para pemilik perusahaan, misalnya ”cadangan untuk expansi” adalah merupakan pemisahan sebagian dari laba yang ditahan, dan dalam neraca masuk dalam klasifikasi modal.
  1. Isi Laporan Keuangan
ü  Neraca
ü  Laporan Laba Rugi
ü  Laporan Perubahan Ekuitas
ü  Laporan Arus Kas
ü  Catatan Atas Laporan Keuangan
  1. Tujuan Laporan Keuangan
I.     Kegunaan Adanya Rumusan Tujuan Laporan Keuangan
– Pembahasan
– Keputusan ekonomi, alokasi kekayaan
– Tujuan, standar, dan praktek, dan hubungannya
– Kritik terhadap akutansi sekarang
II.    Pemakai, Tujuan Pemakai Laporan dan Informasi yang Dibutuhkan
– Komponen Keputusan Ekonomi
– Kesamaan Informasi yang dibutuhkan pemakai laporan
– Keputusan kredit
– Keputusan Investasi
III.  Tujuan Utama Perusahaan dan Kemampuan Mendapatkan Laba
– Pengukuran prestasi perusahaan berdasarkan tujuannya
– Peranan akutansi
– Akutansi dan laba ekonomi
– Kemampuan mendapatkan laba
IV.  Pertanggungjawaban dan Laporan Keuangan
V.   Laporan Keuangan:  Pelaporan Pencapain Tujuan Perusahaan
– Indikator sukses dalam mencapai tujuan perusahaan
– Siklus perolehan laba
– Penggolongan siklus Perolehan laba
– Kegunaan penggolongan siklus perolehan laba
– Mengukur kemajuan kearah siklus laba yang sempurna
– Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
– Laba dan laporan keuangan
– Pelaporan keberhasilan dalam memcapai tujuan sifat informasi
– Laporan posisi keuangan
– Laporan laba
– Laporan kegiatan keuangan
– Sifat yang menguntungkan dari laporan keuangan
– Penyampaian data dalam angka tunggal dan angka relatif
VI.  Laporan Keuangan:Biaya Historis dan Pertimbangan Nilai
VII.  Proses Peramalan dan Kaitannya dengan Tujuan Laporan Keuangan
– Laporan Keuangan Konvensional dan Pertimbangan tentang masa depan
– Informasi yang berguna untuk meniali masa depan
– Ramalan keuangan akurasi dan kegunaanya
– Pelaporan Lamaran atau proyeksi
VIII.  T ujuan Laporan Keuangan untuk Lembaga Pemerintah dan Lembaga yang tidak  Mencari Laba
– Pengambilan keputusan dalam lembaga pemerintah dan organisasi nirlaba
– Tujuan laporan keuangan untuk organisasi nirlaba
IX.   Hubungan Antara Tujuan Perusahaan dengan Tujuan Sosial
– Interaksi langsung atau reciprical
– Interaksi tidak langsung atau nonreciprocal
– Pengukuran dan pelaporan interaksi sosial dalam laporan keuangan
X.   Sifat Kualitatif dari Laporan
– Relevan dan materialitas
– Formal dan substansi
– Tingkat kepercayaan
– Dapat diperbandingkan
– Konsistensi
– Dapat dipahami
  1. Manfaat Laporan Keuangan
1. Bagi Perusahaan
  • Bukti pertanggung jawaban bagi pemilik perusahaan atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengelola perusahaan.
  • Alat evaluasi pelaksanaan kegiatan perusahaan baik secara keseluruhan ataupun secara individu yang diserahi wewenang dan tanggung jawab.
  • Alat untuk mengukur tingkat biaya dari kegiatan perusahaan.
  • Dasar dan bahan pertimbangan dalam menetapkan kegiatan dimasa mendatang.
  • Mengetahui perkembangan dan kondisi keuangan perusahaan.
  • Alat untuk menilai hasil yang dicapai pimpinan perusahaan.
  • Dasar penentuan tafsiran keuntungan yang akan diterima dimasa mendatang serta perkembangan saham yang dimiliki
  1. 2. Bagi rumah tangga
Salah satu manfaat dari mempunyai neraca keuangan sendiri ini adalah:
  • Kemudahan dalam mengisi SPT setiap tahunnya. Dan ketika kita punya neraca satu tahun, ini bisa dijadikan template untuk tahun-tahun berikutnya, sehingga ketika datang bulan Maret, kita dengan cepat bisa menentukan kewajiban pajak kita kepada negara. Yang sulit adalah memulainya.
  • Disamping itu, yang lebih penting lagi, neraca bisa menjadi basis bagi Anda dalam menghitung jumlah zakat maal yang harus dibayar. Dari tabel diatas, jelas orang tersebut – fiktif tentunya, sudah wajib zakat; dan berdasarkan net worth-nya, kewajiban zakatnya lebih kurang Rp. 13,425,000 per tahun. Angka ini diperoleh dari perhitungan 2,5% dari nilai net worth.
  • Namun harus diperhatikan, untuk perhiasan atau harta yang sifatnya idle, seperti emas atau barang antik, sebagian ulama mengharuskan pembayaran zakat yang lebih besar (5-10%).
  • Kegunaan lain dari neraca adalah sebagai alat kontrol bagi kita dalam menentukan kemampuan going concern kita untuk tahun-tahun berikutnya. Neraca yang defisit (net worth nya minus) menyiratkan perlunya pemangkasan kewajiban, mengurangi hutang dan langkah-langkah penghematan lainnya.
  • Disisi lain, defisit juga bisa ditutupi dengan meningkatkan aset (mencari pendapatan tambahan) atau konversi aset tetap menjadi cash – guna membayar hutang-hutang yang ada, dst.
  • Sementara, kalau neraca kita, langkah lanjutnya lebih kepada memanfaatkan kelebihan tersebut untuk keperluan ibadah (haji, perbanyak infaq), membuka usaha, dan sebagainya.


Share:

BAB 13 FUNGSI PERSONALIA

FUNGSI PERSONALIA

PENGERTIAN MANAJEMEN PERSONALIA
Menurut Edwin B.Flippo, manajemen personalia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dari pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja karyawan dengan maksud mencapai tujuan individu karyawan, perusahaan, organisasi atau masyarakat.
Definisi flippo dapat disimpulkan bahwa manajemen personalia adalah manajemen yang berkaitan dengan manusia khususnya menjalin kerja sama dalam mengembangkan dan menumbuhkan berbagai kebijakan dalam mempengaruhi orang-orang yang membentuk organisasi maupun dalam membantu para pemimpin sebagai manajer untuk mengelola SDM yang dimiliki perusahaan.

Aktivitas-aktivitas personalia
Pencapaian produktivitas tenaga kerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan harus didukung oleh kegiatan-kegiatan departemen personalia dari suatu perusahaan. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah :
1. Perencanaan Sumber Daya Manusia
Tujuan perencanaan sumber daya manusia ini yaitu menciptakan kaitan antara seluruh strategi perusahaan dengan kondisi sumber daya manusia yang tersedia atau dengan perkataan lain, dengan adanya perencanaan sumber daya manusia maka aktivitas sumber daya manusia akan selalu konsisten dengan arah atau tujuan perusahaan.
Di dalam menyusun perencanaan sumber daya manusia, manajemen perlu membuat analisis lingkungan dan penilaian organisasional. Analisis lingkungan dimaksudkan agar manajemen dapat mengantisipasi adanya perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi di waktu mendatang.
Lingkungan yang dapat mempengaruhi ketersediaan tenaga kerja dapat dijelaskan sebagai berikut (Henry Simamora : 61 - 64) :
a. Lingkungan Perekonomian
Lingkungan ini dapat mempengaruhi status keuangan perusahaan yang akan dapat mempengaruhi tingkat pengeluaran, resiko dan prioritas pembelanjaan.
b. Lingkungan Sosial
Dalam hal ini, kebiasaan, sub kultur ataupun trend populasi dapat mempengaruhi organisasi. Manajer perlu memahami lingkungan sosial dimana perusahaan beroperasi, sebab ini akan berpengaruh terhadap hubungan antara pekerja dengan manajemen. Sikap, nilai sosial dan kepercayaan dapat mempengaruhi apa yang diharapkan tenaga kerja pada organisasi.
c. Lingkungan Politik
Lingkungan ini menyangkut sikap pemerintah terhadap perusahaan, peraturan ketenagakerjaan dan kesejahteraan sosial. Peraturan pemerintah yang mengharuskan perusahaan memberikan tunjangan kesehatan, penyediaan dana pensiun atau mengasuransikan tenaga kerja akan menyebabkan perusahaan berupaya untuk melaksanakannya.
d. Lingkungan Hukum
Kemajuan bidang hukum memberi perlindungan bagi para tenaga kerja untuk mendapatkan hak dan kewajibannya secara proporsional.
e. Lingkungan Pekerja
Lingkungan ini menggambarkan sikap karyawan dan masyarakat terhadap serikat pekerja.
f. Lingkungan teknologi
Disini, teknologi akan mempengaruhi keahlian pekerja yang dibutuhkan serta alat-alat kerja yang digunakan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
2.     Analisis dan Desain Pekerjaan
Analisis pekerjaan merupakan penentuan melalui pengamatan, studi dan informasi yang berkaitan dengan sifat dari suatu pekerjaan tertentu. Dari sudut pandang departemen personalia, tujuan penyusunan analisis pekerjaan (analisis jabatan) adalah :
a.     Mengidentifikasi kegiatan yang akan dikerjakan
b.     Mengevaluasi tempat kerja yang berkaitan dengan pekerjaan
c.      Menentukan syarat-syarat kerja bagi karyawan
d.     Mengidentifikasikan informasi tentang prosedur operasional
e.      Menjelaskan batas-batas wewenang dan tanggung jawab.

3.     Penarikan Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang diinginkan oleh perusahaan dapat diperoleh dari berbagai sumber berikut :
a.     Dari dalam Perusahaan. Cara ini merupakan cara terbaik, berasal dari promosi (kenaikan pangkat) atau transfer (pemindahan dari bagian lain) didalam perusahaan.
b.     Teman-taman para Karyawan. Cara ini digunakan dengan anggapan bahwa, karyawan tersebut sudah mengetahui kualifikasinya, dengan demikian maka diharapkan calon pasti akan sesuai.
c.      Lembaga Penempatan Tenaga Kerja. Hanya terdapat satu lembaga yang diatur dan ditangani oleh Pemerintah, yaitu Kantor Penempatan Tenaga Kerja (KPT), yang bertugas menyalurkan tenaga kerja yang belum sempat memperoleh pekerjaan.
d.     Lembaga Pendidikan. Dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan bea-siswa dan meminta langsung kepada lembaga pendidikan tersebut.
e.      Masyarakat Umum. Cara ini memerlukan biaya sangat besar, dengan cara memasang iklan.
4.     Seleksi Tenaga Kerja
Proses seleksi merupakan kegiatan untuk memilih dari sekelompok pelamar yang paling memenuhi kriteria seleksi untuk ditempatkan pada posisi yang memerlukan. Berbagai tes diantaranya : Tes kecerdasan, Tes bakat, Tes prestasi, Tes minat, Tes kepribadian

5.     Orientasi,pelatihan dan pengembangan tenaga kerja
Orientasi merupakan kegiatan untuk mengenalkan tenaga kerja kepada organisasi/perusahaan menyangkut fungsi-fungsi, tugas-tugas, dan personil-personilnya. kemudian dilakukan pula tahap induksi.
Induksi merupakan aktivitas karyawan baru untuk mempelajari sejarah perusahaan, struktur organisasi, jenis produk yang dihasilkan, peraturan ketenagakerjaan, kompensasi dan tunjangan serta karyawan-karyawan yang terlibat dalam perusahaan.

Tujuan pelatihan dan pengembangan,antara lain :
1)    Memutakhirkan keahlian keryawan dengan adanya kemajuan teknologi
2)    Mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru untuk terampil dalam pekerjaan
3)    Membantu memecahkan permasalahan operasional
4)    Mempersiapkan karyawan untuk promosi
5)    Menorientasikan karyawan terhadap organisasi

Berbagai jenis metode pelatihan dan pengembangan
a.     On the job training
b.     Apprenticeship
c.      Rotasi pekerjaan
d.     Off the job training

6.     Penilaian kinerja
Kinerja karyawan adalah ingkat dimana karyawan mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan. Manfaat pinilaian kinerja, antara lain :
a.     memberi informasi yang dapat membantu di dalam keputusan-keputusan yang berkaitan dengan masalah promosi, kenaikan gaji, transfer maupun pemberhentian tenaga kerja.
b.     dapat digunakan untuk mendorong pengembangan karyawan.
Sistem pinilaian prestasi kerja diantaranya dengan ranking, perbandingan karyawan dengan karyawan, grading, skala grafis, cheek list.

7.     Pemberian kompensasi
Kompensasi dapat diartikan sebagai bentuk pengembalian finansial dan tunjangan-tunjangan yang diperoleh karyawan sebagai bagian dari hubungan kepegawaian. Kompensasi meliputi imbalan finansial dan imbalan non finansial.Tujuan pemberian kompensasi,antara lain :
a)     menarik karyawan untuk bekerja
b)    menahan karyawan untuk tidak pindah pekerjaan
c)     memberi motivasi kerja

8.  Pemeliharaan tenaga kerja
Dalam pemeliharaan tenaga kerja ada 2 program yaitu :
a)     Program keselamatan dan kesehatan kerja
b)    program pelayanan karyawan

Hubungan Industrial

v Ruang Lingkup Hubungan Industrial
Hubungan industrial menggambarkan sebuah system yang kompleks yang pada dasarnya merupakan hubungan antara pelaku dalam proses produksi barang atau jasa. Para pelaku tersebut terdiri dari para karyawan, pengusaha dan pemerintah termasuk masyarakat. Sebagai sebuah system dinamis, maka hubungan industrial memiliki sub-sub system atau bagian (dalam hal ini para pelaku dalam produksi)yang berperan sesuai dengan bidang masing-masing sehingga diharapkan dapat menumbuhkan iklim kerja dan usaha yang harmonis.
Ruang lingkup hubungan industrial meliputi seluruh aspek dan permasalahan ekonomi, social, politik, budaya dan teknologi serta lainnya baik yang langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan hubungan antara pekerja, pengusaha dan pemerintah/masyarakat.


v Pengertian dan Tujuan Hubungan Industrial Pancasila
Sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila (HIP), berikut ini dipaparkan pengertian dan tujuan hubungan industrial pancasila.
Hubungan Industrial Pancasila adalah suatu system hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan jasa (bekerja, pengusaha dan pemerintah) yang didasarkan atas nilai-nilai yang merupakan manifestasi dari keseluruhan sila-sila dari pancasila dan UUD 1945 yang tumbuh dan berkembang di atas kepribadian bangsa dan kebudayaan nasional indonesia.
Sejalan dengan pengertian diatas, sila-sila dari Pancasila yang melandasi HIP adalah merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Sila yang satu tidak lebihmmenonjol perannya dari sila yang lain. Dalam membahas suatu sila sebagai dasar, tidak bole terlepas dari sila yang lain, karena Pancasila harus dilaksanakan dan diamalkan secara bulat dan utuh.
Tujuan Hubungan Industrial adalah  mengemban  cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945 di dalam Pembangunan Nasional, ikut mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.
Tujuan tersebut dicapai melalui penciptaan ketenangan, ketentraman, ketertiban, kegairahan kerja serta ketenangan usaha, meningkatkan  produksi atau produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan pekerja serta derajadnya sesuai dengan martabat manusia.

v  Azas-azas dalam hubungan industrial
Dalam mencapai tujuannya, Hubungan Industrial Pancasila mendasarkan diri pada azas-azas pembangunan yaitu:
a.       Azas Manfaat
b.      Azas Usaha bersama dan kekeluargaan
c.       Azas Demokrasi
d.      Azas Adil dan merata
e.       Azas Peri kehidupan dan kesinambungan
f.       Azas Kesadaran hukum
g.      Azas Kepercayaan

Dalam pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila berdasarkan kepada dua azas kerja yaitu:
a.       Azas Kekeluargaan dan gotong-royong
b.      Azas Musyawarah untuk mufakat

Sedangkan sebagai manifestasi dari kedu azas diatas, maka HIP mendasarkan kepada 3 (tiga) azas kerja sama, yaitu bahwa pekerja dan pengusaha merupakan teman seperjuangan dalam :
-          Proses produksi, berarti mereka wajib bekerja sama serta membantu kelancaran usaha.
-          Dalam pemerataan menikmati hasil perusahaan, berarti hasil usahanya dinikmati bersama dengn bagian layak/sesuai dengan prestasinya.
-          Dalam bertanggung jawab, kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan Negara masyarakat sekeliling, pekerja dan keluarganya dan kepada pengusaha di mana mereka bekerja.

v  Ciri-ciri Khusus dalam Hubungan Industrial Pancasila
1.      HIP mengakui dan meyakini bahwa bekerja bukan hanya bertujuan untuk sekedar mencari nafkah saja, akan tetapi sebagai pengabdian manusia kepada Tuhannya, kepada sesame manusia, kepada masyarakat, bangsa dan Negara.
2.      HIP menganggap pekerja bukan hanya sekedar factor produksi belaka, tetapi sebagai manusia pribadi dengan segala harkat dan martabatnya. Karena itu perlakuan pengusaha kepada pekerja bukan hanya dilihat dari segi kepentingan produksi belaka, akan tetapi haruslah dilihat dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat manusia.
3.      Hubungan Industrial Pnacasila melihat antara pekerja dan pengusaha bukanlah mempunyai kepentingan yang bertentangan akan tetapi mempunyai kepentingan yang sama yaitu kemajuan perusahaan. Karena dengan perusahaan yang majulah semua pihak akan dapat meningkatkan kesejahteraan.
4.      Dalam HIP setiap perbedaan pendapat antara pekerja dan pengusaha harus diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat yang dilakukan secara kekeluargaan.
5.      Di dalam pandangan HIP terdapat keseimbangan antara hak dan kewajiban kedua belah pihak dalam perusahaan. Keseimbangan itu dicapai bukan berdasarkan atas perimbangan kekuatan (balance of power), akan tetapi atas dasar rasa keadilan dan kepatuhan. Di samping itu juga HIP juga mempunyai pandangan bahwa hasil-hasil perusahaan yang dicapai berdasarkan kerja sama antara pekerja dan pengusaha, harus dapat dinikmati secara adil dan merata sesuai pengorbanan masing-masing.
6.      Dalam HIP dituntut adanya saling pengertian antara karyawan dan pengusaha. Di satu pihak, pengusaha perlu menyadari dan mengakui, bahwa:
-karyawan perlu diajak berperan serta di dalam memecahkan persoalan-persoalan perusahaan
-karyawan menghendaki agar pengusaha dapat memberikan upah yang layak.
7.      Dipihak karyawan dan serikat pekerja harus menyadari dan mau menerima keadaan, bahwa:
-fungsi memimpin dan mengendalikan perusahaan berada di tangan pengusaha yang perlu dukungan dari karyawan atau serikat pekerja
-disamping memberikan upah atau gaji dan  kesejahteraan bagi karyawan, pengusaha masih harus menjamin keperluan-keperluan lain, seperti; perluasan usaha, penggantian barang-barang modal, pemberian dividen untuk para pemilik modal dan pembayaran pajak.




Share:

Business

Popular

Arsip Blog

Recent Posts